Tesist Episode 13


ITB Berwisuda

Selamat membaca tulisan saya yang sudah berdiam diri cukup lama di draft alias mangkrak tidak dilanjutkan karena kesibukan ini itu dan lain sebagainya.

Disiang buta yang sedang dilanda seribu perasaan tak karuan, perut antara sakit karena mules atau perihal katering kantor yang belum datang, tiba-tiba ada pesan sms masuk ke hp saya, dan simsalabim,. Dengan entengnya mba ADM mengabarkan demikian,


“pendaftaran tesis dibuka tanggal 8 agustus sampe dengan 13 agustus 2016, semangat yah”


Jinguk,. Ndloogook,. Pekok,... segala sumpah serapah bergejolak dalam hati.
Saya sebenarnya sudah menduga bahwa kendadakan ini pastilah akan terjadi. Toh, sudah bukan hal yang baru jika mba ADM kampus sangat gemar sekali ngabarin semua hal pake ndadak, kayaknya kalo ga ndadak mungkin besok saya bisa nikah sambil lari-lari. Tapi ya begitulah, hidup kadang memang serba ndadak, dan sendadak ini.



Masalahnya sebenarnya bukan Cuma karena ndadak, tapi juga karena, pertama laporan tesis yang sepertinya masih berupa catatan catatan sejarah yang tertempel di daun lontar, kedua quisioner sendiri untuk mengumpulkan data, masih saya pegang erat-erat, karena takut meletus. Jadi, serba ndadak ini, jelas membuat saya dua atau bahkan tiga kali lipat berfikir lebih keras dari pada sebelumya.


Mengingat bahwa pada saat sms itu dikirim sudah memasuki juli akhir, menimbang bahwa secara waktu, kemungkinan keefisiensinan adalam mengerjakan tesist hanya tinggal dalam hitungan minggu, maka kami yang terdiri dari ibu muda yang sedang kembali hamil, mas-mas imut yang sudah tunangan, lelaki buncit yang sedang gemar-gemarnya naik sepeda, dan saya, lelaki biasa-biasa saja yang terlanjur sudah sangat biasa, memutuskan untuk berangkat bimbingan pada 30 juli 2016.


Seperti kata peribahasa tua yang sering kali kita dengar, bunyinya kurang lebih seperti ini,.

Apapun yang dikerjakan ndadak, maka percayalah hasilnya tidak akan terlalu maksimal.

Jika kalian tidak pernah dengar peribahasa tersebut, maka kemungkinanya Cuma ada dua. Pertama, main kalian masih kurang jauh, ga pernah maen disawah pasti kalian. Atau kemungkinan yang kedua, saya ngaco.


30 juli 2016 ternyata bertepatan dengan banyak hal dibandung. Semisal pembangunan jalan layang diperempatan menuju arah ke stasiun kereta api kiaracondong. Pembangunan ini jelas melahirkan kemacetan sementara, terutama didaerah sekitar pembangunan jembatan tersebut. Seperti kebanyakan kota-kota besar dinegri ini, bandung memang sudah mulai dilanda kemacetan. Terutamanya dijam-jam sibuk seperti dijam berangkat kerja atau berangkat sekolah dan juga dijam sore jam pulang kerja dan jam pulang sekolah. Macet, satu hal yang juga sama membosankanya dari pada nungguin temen kamu nyarutang uang. Saran saya, jika kamu dilanda kemacetan terus temen kamu juga belum bayar utang ke kamu, maka solusi paling terbaik adalah sabar, tawakal, ikhitiar dan jangan sering-sering nonton dahsyat.


Pada tanggal tersebut juga, yaitu tanggal 30 juli 2016 ITB sedang melakukan prosesi wisuda. Wisuda, mmmm.. sebuah prosesi menuju kegaluan dan kebingungan yang kita tepuk tangani. Sebuah kejadian menuju era penjajahan yang kita sorak-soraki. Moment mana lagi dimana kita akan memasuki sebuah masa yang penuh dengan ketidak enakan tapi malah diselamati?. Seperti banyak prosesi wisuda, wisuda di ITB juga diwarnai dengan banyak senyum simpul yang palsu dan penuh sandiwara. Senyum yang saya pastikan Cuma akan bertahan pada saat kamu cekrek sana cekrek sini, yang 2 bulan kemudian akan hilang berganti cemas yang menggunung. Apalagi jika dalam waktu itu tak kunjung dapat kerjaan. Akan tambah tidak menyenangkan jika faktanya kamu lulusan kampus negri yang cukup ternama, dalam 2 sampe 5 bulan tidak dapat kerjaan, tidak membuka lapangan pekerjaan alias tidak pula berwirausaha atau yang terakhir tidak memberikan sumbangsih apapun untuk dunia pindidikan dan kemajuan bangsa, maka kamu adalah segagal-gagalnya lulusan negri. 

Menyedihkan bung !. pada akhirnya, kita harus sepakat pada sebuah ungkapan yang cukup melegenda di kalangan intern saya,


Masa depan tidak ditentukan dari mana almamater kamu berasal, masa depan kamu sendiri yang bikin.


Ditemani dengan prosesi kebingungan yang kita selamati, prosesi pembodohan yang kita tepuk tangani, dan pembangunan jembatan demi memecah kemacetan dengan melahirkan kemacetan, kami berempat tetap berangkat bimbingan. Mengingat sebentar lagi akan ujian sidang tesist. Maka, mari selamti kami, mari tepuk tangani kami, semoga itu jadi energi berlebih buat kami.

























No comments

No comments :

Post a Comment