Tesist Episode 14

Disidang Tesist

Sidang tesis adalah hal yang pasti, ia akan datang tanpa diminta, ia akan datang tanpa ditunggu sekalipun. Itu sudah pasti, dan saya amat sangat paham tentang itu. Kalaupun ada satu hal yang tidak bisa atau belum bisa saya pahami adalah perihal saya mempersiapkanya. Dan dalam hal mempersiapkanya, saya memang payah. Meskipun laporan sudah lebih dulu selesai, tapi saya tetap tidak merasa punya cukup modal, bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaan sepele dari dewan penguji semisal,


“apa latar belakang anda mengambil judul tersebut?”


Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tooh, saya tetap harus bolak-balik membuka bab 1 dan bab 2 sampe lecek dan porak-poranda. Saya jelas galau akut. Tapi segalau apapun dan bahkan sebigung apapun saya saat itu, saya tetap harus mempersiapkanya.



Pada akhirnya, jadwal ujian sidang tesis pun dirilis. Bak seperti undian liga champions, saya jelas berharap bertemu lawan yang tidak berat. Dalam hal ini sama dengan tidak mendapatkan urutan sidang nomer pertama dihari pertama. Yaa, sampean tahu lah seberapa besar tekanan jika akhirnya itu terjadi. Sampean juga pasti tahu seberapa gugup akhirnya menjadi orang pertama dihari pertama. Tanpa persiapan yang matang dan pengetahuan yang cukup plus ditambah juga hoki yang mujur, sidang tesis dihari pertama dan nomer urut pertama itu seperti kata lain dari bunuh diri dalam versi yang lebih unyu dan halal. Sungguh sesuatu yang sedang saya hindari saat itu. Tapi benar kata buku, malang tidak dapat dipindah, semarang masih jauh,.. (malang tidak dapat dihindari, mujur tidak dapat dipesan,. Maksudnya begitu,. Bingungan sampean..) kampreeet seribu kampreet,. Saya dapat undian hari pertama, dan kebetulan lebih kampretnya lagi juga nomer pertama.

Ndlooogoook,.. saya bukan Cuma galau sekarang, tapi juga sedikit depresi, gejala frustasi, dan ditambah sudah lupa rasanya imunisasi.


Kamis tanggal 25 agustus 2016 jam 8 pagi, adalah jadwal sidang tesis saya. Itu hanya berjarak 3 hari dari hari ulang tahun saya. Okee,.... bersenang-senang dahulu, galau karena tesist kemudian. Saya nyaris mikir tiap menit tentang nasib ini. Saya nyaris mencari jawaban tiap detik dari kegelisahan saya mendapatkan nomer urut satu ini. Pada ujung setiap pemikiran itu, akhirnya bermuara pada satu kalimat,

“kamu harus siap, selebihnya,. Pasrahkan kepada karepening Gusti”


Tapi setiap kali kalimat itu muncul, tiap kali pula bermacam-macam alasan tentang tidak siapnya saya menjadi orang pertama yang akan disidang bermunculan. Semisal diwaktu-waktu saya itu sedang sibuk sekali dan beberapa kali lembur nyidang tugas akhir mahasiswa. Duuuh,.. betapa hidup kadang Cuma nunut nyidang dan disidang. Selain sibuk lemburan nyidang, diwaktu yang belum lama juga, saya sakit. Betapa hidup kadang juga numa nunut sakit, berobat dan disuntik bu dokter. Maka lengkaplah sudah alasan saya. Jelas sebuah persiapan yang sangat matang jika saya ingin menjadi pecundang.


Galau, frustasi memang menjadi satu hal yang akan membuat mu ingin pulang, begitu juga dengan saya. Sayapun akhirnya memutuskan untuk pulang. Pulang dulu kerumah, bertemu mamih papih mungkin bisa jadi sedikit intermezo yang cukup menarik, tak lupa saya tidak membawa laptop dan laporan. Sebab saya sedang tidak ingin mengingat-ngingat sidang tesis dirumah. Akan tetapi bayangan menenangkan diri dirumah dan tidur nyenyak ternyata juga tidak terbukti, saya semakin galau dan bingung tidak tertahankan. Gestur gelisah dan bingung saya juga akhirnya terbaca oleh bapak dan ibu, saat saya kembali ke kost pada besok harinya, bapak langsung menelpon dan bilang,.

“koe lagi kenapa? Mriaang ?? apa kurang duit?? Ngomong,.. arep ujian sidang tesis terus bingung apa ? biasa baen,. Ujian ya dilakoni, ora lulus pisan ya pindo,. Deneng mbien kakang mu ujian nganti ping pat...”


Sebuah tambahan motivasi yang,.... yang tetep aja ga bisa ngerubah situasi apapun dihati saya. Saya masih kembali kekost dengan tatapan kosong, nanar dan seribu kebingungan yang semakin menggelisahkan.


Rabu tanggal 24 agustus, saya bertiga dengan teman-teman yang lainya yaitu, fandi, andrian dan sagifa berangkat ke jakarta dengan sebuah perasaan yang serba tidak enak. Seperti ingin berangkat tidak mau, tidak berangkat tetapi dipaksa buat berangkat. Menolak tapi tak bisa menolak, menerima tapi sulit buat diterima. Sepanjang perjalanan kereta pai dari purwokerto saya nyaris tak berkata apa-apa, saya diam dan serba diam. Mempersiapkan semuanya yang akan terjadi besok dengan diam. Tak banyak melucu, karena saya tahu diri saya sedang tidak bisa melucu dalam sebuah situasi yang tak selucu itu. Dalam sebuah situasi yang saya tidak dapat melucuinya. Perihal hidup, kadang lucu kadang juga emang ga lucu.


Kamis tanggal 25 agustus 2016. Hari itu datang juga, padahal saya biasanya memandang hari kamis dengan amat biasa dan wajar. Saya pula tidak terlalu memspesialkan tanggal 25 agustus. Kalopun ada satu tanggal dibulan agustus yang saya istimewakan, selain 17 agustus (biar ga disangka generasi nol nasionalis) pastinya tanggal 22 agustus. Tanggal yang diyakini oleh bapak ibu saya sebagai tanggal kelahiran saya. Saya pun percaya, paling tidak setiap kali lihat akte lahir tanggal yang tertera memang 22 agustus. Semoga bukan hoax dan pengalihan isu, negri ini sudah cukup banyak pengalihan isu dan berita hoax. Pagi-pagi setelah subuh, saya mengirimkan sms kepada orang-orang terdekat. Disitu adalah moment dimana saya dengan sangat sadar dan iklas mengakui bahwa, untuk sampai di titik ini ada banyak sumbangsih orang lain. Minimal doa mereka. Pada hari itu sekali lagi saya meminta doa mereka, karena saya sadar tanpa doa mereka saya hanyalah seoonggok manusia biasa ditengah hamparan manusia lainya disebuah planet bernama bumi.


Pada akhirnya, saya Cuma bisa bilang mengutip dari sebuah syair lagu nan syahdu dengan bunyi demikian,

Apa yang kamu takutkan tak sebanding dengan kebaikan tuhan, maka teruslah kamu berjalan


Hari itu sebuah ucapan yang saya tunggu-tunggu keluar juga,.

Selamat mas, sampean lulus, mohon ini direvisi sesuai dengan catatan

Tak ada kemenangan yang semelegakan ini, tak ada hari yang semenenangkan ini. Sungguh. Akhirnya saya Cuma bisa berkata,

Terima kasih untuk semua doa yang tak terdengar, terima kasih kepada orang-orang yang diam-diam mendoakan dan mendukung kala segalanya tampak tak mungkin. Terima kasih kepada bapak dan mamih yang tiap kali menyakinkan bahwa hari itu akan bisa dilewati dengan biasa. Terima kasih kepada mamah kirah atas doa dan dukunganya. Terima kasih buat kamu, perempuan yang selalu aku sebut tiap doa, dengan mu kemustahilan tampak lebih mungkin buat diupayakan. Terima kasih pula buat semua teman-teman, teman-teman satu bimbingan, teman-teman satu kantor, untuk tiap doa dukungan dan canda tawanya.


Ini bukan akhir dari sebuah cerita bernama tesist, tapi ini sebuah satu langkah maju yang membahagiakan.


No comments

No comments :

Post a Comment