Snack Bikini

pertama, karena ini termasuk postingan yang agak panjang, pastikan sudah ada secangkir kopi, satu bungkus chitato rasa mie goreng, dan hati yang riang gembira. kedua, pastikan pula sampean berusia lebih dari 18 tahun, yang sudah bisa menerima perbedaan pola pikir. ini penting bung, sungguh.


Apa yang sampean dapatkan jika mendengar kata bikini? Apakah seorang gadis bule yang hanya memakai dua helai kain penutup atas bawah? Jika ia,? Maka bisa saya pastikan sampean terlalu sering nonton serial baywatch. Begini bung, bikini secara harfiah, bikini itu sama saja kaya sempak yang biasa dipakai para lelaki untuk melindungi tititnya dari bahaya kecantol resleting, atau sama saja dengan BH dan temennya (kain berbentuk segitiga itu) yang dipakai hampir semua mba-mba seantero jagad raya galaksi bima sakti. Udah itu aja, ga ada yang spesial. Lantas jika sampean membayangkan banyak hal hanya karena mendengar kata bikini, maka seharusnya sampean malu pada titit yang setiap kali kencing belum lurus-lurus benar itu. Sampean juga harusnya malu, malu pada setiap mba-mba yang bahkan ga "mlirik-mlirik ka", saat sampean lupa meresleting resleting celana pada suatu pagi. Sebelum saya lanjutkan ke pembahsan yang sedang hangat-hangatnya pekan ini, pastikan bahwa otak sampean bisa menerima perspektif pandangan saya akan sebuah persoalan, pastikan juga bahwa sampean juga bisa menerima gaya tulisan saya, yang mungkin menurut sampean saru, tidak layak baca, dan bahkan mungkin malah terkesan bokep banget. Jika poin terahkir sesuai dengan apa yang sampean pikirkan, maka saya pastikan sampean termasuk kedalam satu generasi syahwat yang perlu segera direhabilitasi, terlalu mudah ngacengan menurut saya.


Akhir-akhir ini saya resah, sebagai pemuda yang penuh dengan niat budi luhur untuk membebaskan bangsa dari sekedar pergunjingan masalah remeh temeh mengenai ahklak dan agama yang membuat kita seperti lebih suci dari pada umat lainya, dimana kita merasa perlu untuk memberikan sensor pada sebuah serial kartun dimana sang tokoh adalah hewan kartun berbikini dengan dalih agar anak-anak terhindar dari degradasi moral dan akhlak, tapi kemudian kita lalai akan perkumpulan kost-kostan mahasiswa yang lebih mirip sarang perkelonan dan perkenthuan diluar nikah, kita juga lalai akan fenomena dimana anak SMP sudah panggil mamah papah, padahal celana seragam sekolah saja masih sedengkul, kencing saja masih belum bisa los tangan, kita juga tetep melestarikan budaya dimana anak SMP bebas kepas-kepus rokok, sambil sesekali menenggak ciu ditangan kanannya dihampir semua terminal bis dan warung sekolah pada saat ini. Sungguh,. Bukankah ini sangat memalukan dan memilukan dikedua sisinya wahai sahabatku?.



Ini sama memalukan dan memilukannya dengan bagaimana kita atau bangsa ini, ramai menggunjingkan “snack bikini”, atau jika diterjemahkan berarti bihun kekinian. Saya akhirnya resah karena sekali lagi, snack bikini dianggap meresahkan perihal bungkusnya yang bergambar bikini. Tapi saya justru lebih resah dengan standarisasi “meresahkan” yang dibuat, saya juga resah kenapa “erotis”, dan “porno” wabil khusus saru, sekerang jadi perkara remeh temeh yang sudah sangat mudah menjadi persoalan nasional. Apakah sengacengan ini bangsa kita sekarang? Apakah sangat mudah naik syahwat kah generasi kita? Hingga melihat sebungkus snack dengan cover bikini saja membuat mereka menjadi sange. Jika ia,? Maka saya bisa memaklumi kenapa generasi sekarang lebih gampang kelonan, ketimbang berusaha dan berjuang demi masa depan.


Keresahan saya akan ribut-ribut snack bikini yang sebenarnya tidak perlu diributkan apalagi juga diresahkan, ternyata sama juga dirasakan oleh teman saya. Teman sesama romanisti dan pengagum il capitano farncesco totti. Akhirnya kita bertukar pendapat dan persepsi, betapa hal ini sebenarnya tidak layak terlalu diberitakan media TV kita, kenapa? Karena sekali lagi, masalah syahwat adalah masalah yang sangat luhur. Via bbm akhirnya kita bertukar pendapat, seorang teman laki-laki yang saya pikir, selalu punya deskripsi saru tersendiri, punya perspektif porno yang lebih murni, punya penafsiran akan syahwat yang lebih mulia, saya pastikan, dengannya kamu tidak akan dikelonin sebelum syah. Kemudian marilah kita sebut dia sebagai BATONG, tak penting siapa nama aslinya. Karena buat apa nama “syaifulloh” (artinya pedang Allah, insya allah, jika salah mohon diluruskan) jika ia tak bisa memedang nafsu syahwat kelonan dengan pacar. Maka sekali lagi, apalah artinya sebuah nama bung.


Pagi itu, saya membuat sebuah status BBM dengan isi yang demikian,

“untuk snack bihun kekinian “bikini”, dari perspektif saya, ternyata masyarakat kita gampang sekali naik syahwat, hanya karena gambar bikini disatu kemasan snack”.-omragil.id-

Tak lama kemudian, mas batong memberikan respon,

“entah mengapa, pandangan bung ragil kok ini saya setuju”. -batong-

Akhirnya mas-mas mempesona yang satu ini mengutarakan beberapa hal, yang menurut saya menarik, kurang lebih demikian.

“kalau kita telaah lebih jauh, ini merupakan preseden buruk bagi kita kaum laki-laki, eh anda laki-laki kan yah bung?, pemerintah lewat BPOM telah memberi kita “stempel” lemah godaan syahwat secara tidak langsung. Seolah-olah, pemerintah ingin memberitahukan kepada dunia luas, bahwa level ngaceng kita menyedihkan. Ini tamparan telak bagi insan perbokepan tanah air, kita tidak boleh diam !!. lawan atau mati dalam cap ‘kaya kue tok ngaceng!!!’.-batong-

Terus kemudian saya memberikan respon,

“hahaha,.. sungguh kajian sampean sangat menarik. Lalu bagaimana pendapat sampean tentang ungkapan khayalak ramai yang mengkhawatirkan snack tersebut dibeli dan dikonsumsi anak-anak?. Beberapa orang tua mungkin khawatir bung, jikalau anaknya jadi terlalu ngacengan setelah membeli dan mengkonsumsi snack tersbeut?”-omragil.id-

Jawaban dari mas batongpun menurut saya masuk akal. Dimana, anak-anak selama ini adalah selalu yang menjadi objek ketidak mampuan kita mengurusi masalah syahwat kita sendiri, sehingga anak-anak tak pernah benar-benar mampu menjadi anak-anak seutuhnya.

“mudah saja saya menjawabnya, pertama, anak-anak itu cerdas, tak akan mempermasalahkan kemasan, tapi lebih cenderung kerasa. Bukan rasa yang dulu pernah ada antara sampean dan dia lho yaaah, entar sampean baper. Kedua, anak-anak itu kan belum kerja, minta duit ke ortu, kalau pengen jajan itu dengan alasan rasa, ya okeh saja. Tapi kalau karena kemasan dan orang tua khawatir, tinggal ga usah dikasih duit aja. Kasian anak-anak bangsa belakangan ini, mereka harus menanggung lemah syahwatnya pemerintah melalui KPI,... sebagai titisan kak seto, aku tidak boleh DIAM.”- batong-


Bagi saya pun itu sepakat, jika memang anak minta jajan “snack bikini” dan orang tua resah dengan gambar bikininya, ya gampang kan, tinggal gunting kemasanya, taruh isi snacknya kedalam selembar mangkok. Jangan lupa untuk meremasnya terlebih dahulu biar rasanya lebih enak. Udah gitu aja, ga perlu kebanyakan drama sampe ada adengan penggrebekan. Seolah-olah dengan keberadaan snack bikini tersebut, satu generasi setelah saya bisa tidak mengenal tuhan dan tidak punya moral. Sungguh masalah yang teramat sangat penting.


“saya sepakat bung, kasian sekali anak-anak sekarang, sudah tidak bisa lagi menyaksikan shizuka secara utuh, kita memang hidup ditengah masyarakat yang dididik untuk terlalu gampang ngacengan. Maka tidak heran jika anak kuliah sekarang lebih aktif kuliah, kumpul,kelon, dari pada kuliah kerja nyata. Tapi saya masih belum dapat reaksi dari KPAI perihal snack bikini ini bung, menurut sampean, apakah kak seto dan semua orang KPAI juga akan sama ngacenganya?”. -omragil.id-


Snack bikini menurut saya hanya seperti semut ditengah lautan yang berada dikerumunan karang, ada banyak masalah dinegri ini, ada banyak faktor yang membuat sebuah generasi bobrok secara moral dan akhlak, ada banyak variabel dan bahkan malah aktor yang membentuk karaktek penerus bangsa yang Cuma mementingan kelonan disetiap hubungan, bukan kejelasan masa depan. Tetapi kita justru lebih melihat dan lebih peduli pada sebuah gambar bikini yang tertampang pada bungkus sebuah snack. Duuh, bangsa ini jelas butuh banyak ngopi, dan masyarakat kita butuh sedikit tambahan cafein.

“kita harus ingat semboyan leluhur bung “ngaceng bukan kriminal”, nampaknya kita lupa nilai luhur dari semboyan itu. Apakah karena mas boy? Apakah karena indi-indian antv? Para orang tua lupa, sebenarnya kedua faktor itulah yang lebih dahsyat efeknya, dalam membentuk karaktek pada diri anak-anak kita. Ingatlah bahwa snack bikini dibuat oleh remaja usia 19 tahun, kita lupa bahwa remaja diusia tersebut kebanyakan sibuk pacaran, hura-hura, dan kelonan, bukan membuka usaha sendiri, mandiri seperti dia. Dulu jaman kita kecil kita mengenal lagu anak-anak yang manshur, sampai detik inipun kita masih ingat lagu tersebut. Bagaimana dengan anak-anak sekarang? Lagu apa yang mereka dapat? Ironi, mereka dapat mars perindo, ini keji Ya Allah.” -batong-.


Pada akhirnya, kejadian ini membuat saya merasa bahwa masyarakat kita terlalu latah atau bahkan terlalu sentimentil dengan hal kecil yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Ini mengingatkan saya pada sebuah malam, disebuah tepian sawah, saat saya sedang membangun moment romatis ditemani padi yang mulai menguning dan tamburan bintang diatas langit. Beserta seorang gadis disamping saya, duuh,. Moment seperti ini ga akan datang dua kali lhoo mas mba. Bukan Cuma mas rangga yang legendaris itu yang bisa kasih moment sederhana nan romantis kepada mba cinta,tapi saya juga mahir. Saya melihat kearah jam, jarum jam memang sudah menunjukan kearah yang cukup malam, dan niat hati memang sudah ingin pulang. Tapi beberapa saat kemudian, datanglah satu laki-laki, yang dengan nada penuh kecurigaan (mungkin laki-laki tersebut khawatir saya bisa melakukan tindakan asusila dipinggir jalan,, sungguh perbuatan yang amat sangat tidak terpuji,  ditepian sawah, terima kasih buat laki-laki yang saya ga jelas banget mukanya kaya apa, sudah mengkhawtirkan saya) kemudian menyuruh saya untuk pulang. Dikemudian moment, saya tidak mempermasalahkan nada kecurigaan dia terhadap saya akan kegiatan ngobrol dan curhat dipinggir jalan ditepian sawah, tidak !!. Saya hanya menyesalkan, kenapa laki-laki itu khususnya, dan masyarakat umumnya, justru malah tidak peduli dengan kerumunan pemuda dengan ciu ditangan kanan, kartu gaplek ditangan kiri, dan kematian tetap ditangan Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada yang peduli dengan hal tersebut, apalagi dengan situasi kost yang lebih mirip tempat kelonan ketimbang kost-kostan, saya yakin tidak ada yang peduli. Tapi pada akhirnya, sang gadis disamping saya mencoba menenangkan,.


“udah, mungkin niatnya baik , Cuma buat ngingetin kita, kalau ini sudah malam”

terakhir, bagi saya tidak ada yang perlu dipermasalahkan atau malah diekspos berlebihan dari sebuah snack bernama snack bikini. jika memang masalah utamanya hanya sebatas gambar kemasaanya, maka sebenarnya itu pun tidak layak dipersoalkan, kenapa? karena sampe saat ini, snack tersebut hanya dijual via online. kita harusnya lebih khawatir, terhadap dengan mudahnya anak-anak menghisap dan mendapatkan rokok, bagaimana ciu dan kawan-kawanya bahkan bisa dibeli dengan harga tidak lebih dari 15 ribu satu liter. 




No comments

No comments :

Post a Comment