Sepucuk Hati Wagimin


Ini adalah tentang wagimin, tentang supucuk hati yang kini akhirnya tertinggal disepotong hati yang lain. Tentang sebuah perasaan yang disimpan diam-diam, tentang sebuah nama yang didoakan dalam malam, tentang sepotong hati yang kini diidam-idamkan. Ini tentang wagimin, tentang sepotong hati wagimin.


Bagi wagimin, kini malam tak Cuma sekedar malam. Bagi wagimin, kini makan juga bukan Cuma sekedar makan. Keduanya punya benang merah, yang akhirnya mungkin menyatukan dua potong hati yang kini sedang terpisah.



Wagimin punya banyak cara buat mengungkapkan sepucuk hatinya. Mulai dari secangkir kopi yang ia nikmati pelan-pelan, dan perasaan yang ia tanam dalam-dalam. Dengan cara ia memandang setiap senyum simpul yang menyembul, dan setiap tawa yang melebur.
Ini adalah ungkapan sepucuk hati wagimin,

Wagiah yang aduhai,

Aku masih saja menikmati senyum mu, dari balik lamunan, dari kejauhan. Aku masih saja kerap mengingat mu, dari balik layar laptop yang aku tatap dalam-dalam. Aku masih saja terbayang tawa mu, dari setiap seduh kopi yang kamu bikin kemarin hari. Bagiku, tak penting kamu memasukan coklatnya dulu, lalu kemudian kamu aduk, terus baru kamu masukan kopinya. Sungguh itu tak penting, sebab kopi itu abadi, sama abadinya dengan bagaimana aku menilai mu.


Wagiah, masih ingat lagu yang aku putar kemarin malam untuk mu, iyaah,. Benar,. Lagu balon ku ada lima dengan syair naik-naik kepuncak gunung. Ajaib bukan?, sama ajaibnya dengan bagaimana senyum kamu bisa begitu sangat mempesona ku. Sama dengan ajaibnya mengapa aku tidak bisa melupakan setiap lekuk senyum yang tercipta dengan sangat sederhana itu.

Ingin aku bilang, jika “i love you” sudah terlalu amat biasa, dan kata sayang tak mampu lagi mendeskripsikan apa yang aku rasakan. Mungkin secangkir kopi yang kita nikmati sama-sama bisa menjawabnya itu, ehh,. Tunggu dulu,. Apa kamu suka kopi ?.


Terakhir, karena sedang tidak banyak kata yang bisa aku rangkai. Aku Cuma mau ngomong,... mmm... ya udah siii gitu aja.


Tertanda, wagimin,. Lelaki dari desa sebelah. 
No comments

No comments :

Post a Comment