Wagimin Dalam Otaknya



Entah sedang kebanyakan mendem micin, atau habis kebentur lingir meja, postingan di omragil.id selama bulan puasa ini kok yo isine mung cerpen ra genah dan ga mutu gini si om,.?? sampean mulai melupakan permasalahan bangsa yang sedang terjadi? Seperti misalkan ahok vs BPK, protes china terhadap penembakan kapal china dilaut natuna, foto baginda jokowi di kapal perang dilaut natuna, dan gosip jika ternyata marshanda baru saja butus dengan egi john, semua itu butuh pemikiran sampean lho om, ya paling ga, sampean harus bersikap dan berbicara minimal.

Oke pemirsa, jawabanya seperti ini. Pertama, tesis saya masih apakabar, kedua saya sedang mengikuti bagaimana alur cerita dua orang paling diagungkan media akhirnya lambat laun mulai gelisah. Begitu.



Satu gelas kopi diseruput habis-habis oleh wagimin, pria sederhana ini masih saja setia dengan perasaanya. Meski, pada akhir diujung lamunanya, dia kembali mengguatkan hati, bahwa air laut tidak akan bermuara kesungai selama tidak ada jalurnya. Dikopi yang dia buat kental-kental itulah, ada gambaran betapa pahit itu harus ada, sebab manis pastilah selalu ada pada ampas dan dasarnya. Sebuah pemikiran pekok dari pemuda yang terlanjur pekok sedari kecil.


Bersama ampas kopi yang kian tenggelam, wagimin terus memupuk perasaan kian dalam. Bersama kopi tersebutlah, ada lamuanan disetiap kali ia menatap satu ruang kosong. Bersama satu cangkir kopi itulah, wagimin terus mengupayakan kemustahilan menjadi kenyataan yang terus saja dia upayakan. Dia akan selalu percaya, bahwa ketidakmungkinan adalah sebuah tembok yang harus dirobohkan dan dimungkinkan demi sebuah kata yang bernama masa depan. Bersama secangkir kopi yang sudah mulai habis dia minum, tersurat diantara goresan pena, sebuah perasaan yang diam-diam dia upayakan.


Aku menikmati kisahmu dari balik sekat bersama kopi dengan ampas yang mengental dan rasa pahit yang kian kental. Aku menikmati kisahmu bersama kegagalan rakyat membaca pencitraan calon penguasa. Aku menyaksikan kisahmu beserta kepolosan mba cinta cipokan dengan mas rangga di depan penginapan di kota jogja. Dan aku selalu mendoakan kebahagianmu bersama setiap seduh kopi yang aku nikmati pelan-pelan, bersama perasaan yang aku tanam dalam-dalam.


Begitulah wagimin mempresentasikan sikap dan perasaanya. Hanya sebatas diam-diam, sebab lelaki pekok bernama wagimin, terlalu pecundang untuk jadi pemenang. Andai dia tahu, kalau dia baru saja mempersiapkan kegagalanya matang-matang, apakah ia masih tetap mau diam-diam? Mungkin mas wagimin lupa tiga syarat kegagalan mutlak,

Banyak beralasan, berhenti berusaha, dan mengubur harapan.


Tidak ada laki-laki yang lebih matang dalam mempersiapkan kegagalan kecuali wagimin. Dia mungkin mencoba, tapi tidak seutuhnya berusaha.


No comments

No comments :

Post a Comment