Memanusiakan Messi Memaklumi Manusia
laga argentina chile terpaksa harus ditentukan lewat drama
adu pinalty. Setelah keduanya sama kuat dibabak normal dan perpanjangan waktu. Dengan
skor 0-0. Kita lihat penendang pertama dari argentina adalah sang mega bintang,
lionel messi. Kita lihat messi mulai melakukan ancang-ancang, bersedia dia,. Sia-siap
dia,. Dann,. ,.... owwhh,.. sayang sekali bung,. Tendanganya melambung keatas
mistar gawang. Owh,. Owwh,. Messi,. Messi,. Cilukkbaaaa....
Kegagalan bisa menimpa siapa saja, tidak peduli dia sehebat
apa dan sekuat apa, ya wong namanya gagal ya datang gitu aja, tanpa
kabar-kabar, tanpa persiapan. Dia datang kepada siapa saja yang dia kehendaki. Dan
sayangnya, jatah gagal kali ini menjadi milik messi. Bukan yang pertama memang.
Apalagi jika konteksnya bersama timnas argentina. Maka ini adalah kegagalan
messi yang ke empat secara beruntun.
Gagal empat kali dipartai final, itu kaya gagal nikahin
pacar kamu padahal udah pacaran lama, ngenesnya, si doi lebih milih nikah sama
laki-laki lain yang baru dia kenal. Dalam konteks ini, keberhasilan akan jadi
milik mereka yang berhak. Sebagai informasi yang semoga mencerdaskan sampean,
menurut catatan, mas messi sudah gagal di empat partai final, dengan rincian, final
piala dunia lawan jerman, dua kali final piala america (copa america) lawan
chile, dan sebelum itu juga mas messi pernah gagal di final copa america juga,.
Tapi saya lupa lawanya siapa. Lebih jauh lagi, argentina sudah 7 kali gagal
dipartai final semenjak 1993. Jadi pada dasarnya, kegagalan argentina tak
melulu perihal lionel messi.
Kalaupun ada satu hal yang perlu disesali atas kegagalan messi bersama timnas argentina adalah, ketidak siapan seorang messi menempa hati dan mentalnya buat sebuah kata bernama gagal. Setelah gagal mengeskekusi pinalty, messi kembali ke kerumunan pemain argentina dan menangis cecunggukan. Menangis sejadinya dan berlinang air mata serta umbelen. Sungguh pemandangan yang ga banget, melihat pemain dengan segala catatan fantastisnya menangis sejadinya ditengah dan dipinggir lapangan. Bukan hal yang salah memang, tetapi memandang pemain terhebat bahkan berlabel alien dengan umbelnya jelas sangat mengganggu bung. Ga cocok.
Messi jelas frustasi, terlihat dari kalimatnya yang dia
ungkapkan setelah laga,
Saya telah selesai dengan timnas, timnas ini bukan tercipta untuk saya
Duuh, sebuah ungkapan yang sangat klise. Mirip kaya
ungkapan-ungkapan muda-mudi yang baru saja putus. Harusnya mas messi ga
berargumen demikian. Toh, dia sudah cenderung lekat dengan label alien, manusia
dari antariksa lain. Mungkin akan lebih pas jika mas messi berujar demikian,
Apa lagi yang harus saya buktikan? Saya pemain argentina pertama dengan 5 gelar pemain terbaik dunia. Semua gelar diclub sudah saya raih dengan barcelona. Rekor pribadi, ratusan gol yang mungkin tidak akan bisa disamai pemain lain. Dan sebuah medali emas olimpiade bersama argentina. Apalagi?
Tapi pada akhirnya, kegagalan itu kembali membuat kita harus
memanusiakan seorang messi, dan memaklumi dia sebagai manusia.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment