Pelatih Alternatif

Saya rasa mulai banyak romanisti yang bosan dengan rentetan hasil imbang, dan mungkin tidak sedikit pula yang mengharapkan RG segera diganti. Saya pikir itu pandangan yang cukup wajar, berapa kali Roma imbang sejak januari sampai dengan awal bulan ini? kapan roma menang dengan lebih dari 2 gol? sekarang, roma bikin 1 gol saja rasanya harus nunggu sampe menit 80 an, atau bahkan malah seremnya lagi, jika pertandingan bola di adakan 1 jam x 2, belum tentu juga saya yakin roma bisa menciptakan lebih dari 1 gol.

Saya memang hanya tifosi layar kaca, tapi sejak umur 9 tahun, saya sudah terbiasa menuliskan apa yang salah dengan roma saat mereka kalah atau gagal menang pada buku saya, dan sekarang saya menuliskannya pada blog saya. Bahkan sejak saya SD, di setiap sudut buku tulis saya akan ada nama pemain roma beserta nomer punggungnya. Ya, sejak kecil saya merah maron.

Penurunan kwalitas permainan roma sangatlah tidak wajar, atau mungkin lawan yang cuma tahu cara bertahan jika berhadapan dengan Roma?, entahlah!. Tapi yang jelas, saya rasa RG harus mencari solusi lain, sampe detik ini saya lihat, setiap kali pergantian pemain saat pertandingan hanya sebatas pergantian orangnya saja tapi skema dan pola dasarnya sama. Semisal, jika ljajic ditarik, maka kemungkinan iturbe yg masuk atau verde. Jika pjanic yg ditarik, maka berganti gelandang nainggolan atau keita. Mereka mungkin berbeda karakter, tapi posisinya sama dengan skema permainan yang sama, maka bisa dipastikan sebenarnya tidak ada yang berubah sama sekali, cuma namanya saja yang berubah. Jika RG harus diganti maka beberapa pelatih ini, menurut saya bisa dipertimbangkan. melihat dari aspek kemampuan mereka mengoptimalkan pemain yang ada dan skema yang mereka usung dan juga prestasi yang mereka dapatkan.

Luciano Spaletti

Kalau saya tidak salah ingat, dia sudah memberikan trophy copa dan dan super copa. Padahal saat dia menangani roma, sisi financial roma bisa dibilang cukup atau bahkan buruk pada masa itu, tapi spaletti tetap mampu berpretasi. Ditambah kemampuan dia melihat potensi pemain. Mirko Vucinic misalkan.

Jurgen Kloop

Dortmund bukanlah tim besar, bukan pula tim yang kaya. Tapi di tangan kloop skema mereka sangat berkembang. kemampuan kloop mengeluarkan semua potensi pemain juga hebat. Contoh kongkrit Kagawa. Kagawa ditangan LVG sama sekali tidak berarti, tapi kalian pasti tahu bagaimana ganasnya Kagawa di tangan Kloop.

Dieogo Simone

Saya angkat topi untuk pelatih yang satu ini, mampu membawa Atletico Madrid juara, UEFA Leangue, piala super eropa, Liga Spanyol, Finalis Liga Champions pengalaman eropa apa lagi yang kurang dari dia?

Vicenzo Montella

Selain karena unsur dia seorang Romanisti sekaligus legenda club. kemampuan dia mengorbitkan dan mengoptimalkan pemain sudah sangat teruji. misalkan ljajic, quadrado dan sekarang salah. Dia juga termasuk pelatih yang cerdas menerapkan strategi yang pas buat lawan lawannya.

Roberto Di Matteo

Mungkin ada yang bertanya kenapa di matteo? jawabannya karena dia seorang Italiano. Bukan cuma sekedar fisiknya, tapi juga taktiknya yang sangat italiano. Masih ingat bagaimana dia mengalahkan barcelona dengan sekali serang dengan membiarakn Torres menggantung didepan sendiri? dan dia pula yang memebrikan trofi liga champions buat chelsea, bukan jose mourinho.

oke, tadi cuma sebatas pandangan saya sebagai tifosi layarkaca yang hanya bisa beli jersey KW cap GO. Tidak satu persenpun saya membantu roma secara finansial, sekali lagi, ini cuma tulisan tifosi layar kaca.


3 comments

3 comments :

  1. kalo menurut w sih pasti ada yang telah terjadi dibelakang layar, yang membuat RG secara sengaja memainkan permainan yang monoton sehingga membuat penampilan Roma menurun. Alasanya? Yang paling mungkin adalah ada klub lain yang menawarkannya untuk meninggalkan Roma, dengan penampilan Roma yang seperti ini, tak sulit bagi RG untuk meninggalkan Roma, bahkan mungkin sekali ia akan dibenci dan didepak dari Roma sehingga ia dengan mulus dapat bergabung dengan klub yang menawarnya tanpa harus memutus kontrak dengan Roma, dengan begitu ia tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk pergi dari ibukota, alih-alih ia malah mendapatkan kompensasi dari pemutusan kontrak secara sepihak oleh kubu tim yang dibesutnya itu.

    karena Bahkan pelatih sekaliber BenDol pun tahu, ketika timnya mengalami kesulitan dalam mengembangkan permainan pasti dia akan menerapkan strategi yang berbeda, apalagi setelah beberapa kali kesempatan untuk mengoreksi kesalahan tim setelah beberapa pertandingan. Lha ini?! RG terus menerapkan strategi yang sama seolah strategi itu adalah strategi yang mujarab. Padahal kalau mau dipikir, mana mungkin pelatih sekaliber RG yang notabenenya adalah pelatih dengan kelas internasional berpikiran sempit dan dengan egoisnya terus menerapkan strategi yang sama. Pasti kesalahan seperti itu dapat dilihat dan diantisipasinya dengan baik, bahkan selagi pertandingan masih berjalan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Logika terbalik yang masuk akal. Mungkin saja.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete