Dari Srigala Jadi Serimulu
Ini sudah bulan maret lho, awalnya saya pikir rentetan hasil imbang cuma akan terjadi di sekitar bulan januari sampe februari lha, sambil nunggu gervinho pulang. Tapi ternyata, tuhan berkehendak lain. Roma masih sangat akrab dengan hasil imbang. Meski sudah mulai lupa rasa kalah, saya juga sudah tidak ingat kapan terakhir Roma menang.Rentetan hasil imbang seakan akan terjadi berlebihan menurut saya, jelas ada yang salah dari semua ini, atau ada suatu hal yang bisa kita ambil benang merahnya dan menggunakan itu sebagai pembelajaran di masa yang akan datang. Sebagai seorang romanisti yang sudah 16 tahun hidup dengan merah maroon sebagai warna saya, maka ijinkan saya melakukan sedikit analisa dari kaca mata saya sebagai tifosi layar kaca. Simak beberapa analisa saya berikut ini :
4-3-3 yang Monoton
Dari sedikit belajar taktik, saya katakan kalau taktik 4-3-3 adalah taktik yang amat sangat monoton jika tidak ditunjang dengan determinasi tinggi dan juga kreatifitasan gelandang tengah. Mengapa? karena taktik 4-3-3 akan terbiasa menyerang dari sektor sayap, nah saat pemain Roma sibuk melebar dari sisi sayap, seperti gervinho, ljajic, iturbe maka pemain lawan akan langsung menumpuk digaris pertahan sendiri. Bahkan acap kali ada 8 sampe 9 pemain lawan menumpuk tepat didepan kiper mereka sendiri, dengan demikian maka pasti akan terjadi yang namanya deadlock. Saat terjadi deadlock ini, maka bola akan kembali dialirkan ketengah, berharap pemain lawan terpancing untuk maju dan menciptakan sedikit ruang yang bisa dimanfaatkan. Tapi nyatanya, mereka sama sekali tidak terpancing. Contoh kongkrit terlihat jelas pada laga Roma VS Juventus. Juventus bahkan bertahan sangat dalam sehingga menyusahkan pemain roma yang hanya bisa menusuk lewat sayap. Deadlock ini juga didukung oleh Roma yang tidak punya gelandang kreatif yang bisa melakukan manuver satu dua sentuhan untuk membuka ruang. Padahal ini sangat amat diperlukan. Sayangnya, pemain tengah roma saat terjadi deadlock, akan kembali mengalirkan ke sayap, sehingga ini sama saja, mubah. Seperti yang saya coba gambarkan pada gambar berikut ini :
Garis kuning menunjukan saat terjadinya proses deadlock dan bola kembali dialirkan ketengah, sedangkan gelandang tengah akan kembali mengalirkannya kesayap. Maka hasilnya akan jadi, sayap-tengah-mundur-sayap-tengah-mundur- tengah-sayap begitu terus sampe saya mau nikah entar ditahun yang belum pasti.
Totti bermain terlalu turun
Mungkin disini akan ada yang bilang bahwa permainan totti sedikit menghambat laju permainan roma. Tapi saya justru akan menggunakan logika terbalik, karena totti tidak pernah bermain terlalu turun sampai kebawah seperti beberapa laga yang saya lihat pada musim ini. Sering kali totti bermain terlalu turun kebawah, padahal usianya sudah 38 tahun, nyaris mustahil mengharapkan dia kembali naik keatas dengan cepat saat dia sendiri ikut turun kebawah untuk menjemput bola. Manuver atau permainan totti coba saya gambarkan seperti gambar berikut ini :
![]() |
| pembagian bola dan manuver totti harusnya seperti garis berwarna merah, bukan pada garis pink dan kuning |
Menurut saya, dengan usia yang tidak lagi muda, Totti harusnya berada pada zona berwarna hijau dengan manuver berwarna merah. Sehingga geraknya akan lebih efektif selain itu juga bisa membuka ruang bagi pemain lain. Akan tetapi sayang, Totti seakan akan di instruksikan untuk turun sangat jauh kebelakang, bahkan beberapa kali saya lihat, dia turun nyaris setengah lapangan lebih seperti pada garis berwarna pink dengan manuver berwarna kuning. Lalu kemana peran gelanda tengah macam DDR, Nainggolan, keita, pjanic ? maka itu hanya RG yang tahu. Mungkin kuncinya ada pada strootman. Strootman memang peran yang tidak tergantikan menurut saya, pada skema RG. Terbukti saat lawan Lazio, dia mampu menciptakan satu asist. Sayangnya Strootman kembali menepi sampai akhir musim.
Terakhir, menyikapi tragedi patah kaki Mattiello, menurut saya hal itu bisa terjadi kepada siapa saja terjadi. Totti, strootman, eduardo da silva adalah sedikit pemain yang cidera parah karena benturan yang mungkin tidak bisa di hindari. Maka, semoga cepat kembali dan lebih hebat dari sebelumnya. dan akhirnya .....
"Dari srigala jadi serimulu, disitu kadang saya merasa heran"
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)


No comments :
Post a Comment