Negri van ndlogok


Sore hari disolo pas liburan yang juga secara kebetulan bersamaan dengan bulan ramadhan. Bangun jam 3 buat makan sahur dengan teman-teman kost, sahur pertama saya bareng mereka tahun ini. Biasanya saya males bangun malam-malam buat sahur. Saya akan lebih memilih sahur jam satu lalu tidur. Tapi karena kebetulan jadwal akhir pekan dan libur, sahur bareng teman-teman mungkin bisa jadi kisah lain yang bisa saya nikmati sesaat sebelum meninggalkan kota ini. Ya, rencananya saya akan meninggalkan kota ini setelah 4 tahun lamanya disini. Rencananya, dan saya berharap rencananya pun masih sama. 4 kali menjalani puasa ditanah orang dan jauh dari orang tua, mungkin sudah cukup buat saya mempelajari apa artinya kedewasaan dan kemandirian, setelah ini? Saya Cuma berharap bisa lebih dekat dengan kedua orang tua yang sudah hampir memasuki masa senjanya.


Selama bulan puasa yang sudah berjalan beberapa hari ini, tak banyak tulisan yang saya buat. Kalau kamu biasa main ke blog saya, maka kamu akan tahu bagaimana gaya saya menyampaikan sesuatu dalam bentuk literasi. Hanya karena ini bulan puasa, saya mencoba untuk lebih sedikit lebih sopan dalam berkalimat. Saya Cuma takut, alih-alih menghibur sampean dengan tulisan saya, malah justru membuat sampean makruh dalam berpuasa. Tapi menurut saya, iman ada didalam pikiran dan hati sampean, mau sesaru apapun saya menyampaikan, saat sampean punya pemikiran dan hati yang baik, maka baik pula segalanya.


Bulan puasa disolo mungkin tak sama dengan puasa ditanah atau dikampung sendiri. Dikampung saya yang mayoritas semuanya muslim, saat musim puasa seperti ini, jangankan warung yang buka saat puasa, warung yang setengah buka saja saya pastikan tidak ada. Semuanya tutup. Kecuali warung klontong. Mereka tetap bukalah, kalau warung klontong tutup, terus emak saya beli beras dimana? Mbok yo sampean mikir.



Tapi ini solo bung !, bukan karangbenda desa saya. Ini solo, dimana warung makan bebas buka selebar-selebarnya saat bulan puasa. Dan mereka yang lapar juga bebas makan sebebas-bebasnya. Pokoke bebas. Sebebas daging babi di hidangkan di angkringan kelas pinggir jalan, daging asu bebas dijual belikan dan dikonsumsi. Sebebas itu pokoknya. Menyadari kebebasan itulah akhirnya saya merasa ada yang ganjil. Warung makan bebas buka, tapi saat adzan tiba, saya kesusahan mencari takjil khas bulan puasa. Takjil yang mungkin hanya bisa dinikmati pas bulan puasa, dan kalaupun kolak pisang bisa dimakan dibulan-bulan lainya, maka saya pastikan nikmatnya tidak seberapa dibandingkan dengan saat dinikmati saat bulan puasa macam sekarang ini. Mbokyo pas bulan ini saja saya minta kolak mudah dicari.


Lain solo, mungkin juga lain daerah lainya. Dibeberapa kota lainya, razia warung makan yang buka puasa saat bulan puasa mungkin sudah sangat jamak dan sering terjadi. Saya kok dengernya malah jadi wagu yah. begini, warung makan buka pas bulan puasa yo ben biarkan saja. Toh, mereka juga cari nafkah dengan cara yang baik dan halal. Dari pada merazia warung makan yang buka pas puasa, kenapa ga razia oknum pejabat dan kawan-kawannya, yang walau puasa tapi masih sibuk cari celah melakukan tindakan korupsi. Kan ndlogok namanya kalau gitu.


Negri ini memang negri van ndlogok, warung makan buka dirazia. Siswi berhijab malah mau dilarang. Sebagai informasi jika sampean belum tahu atau belum denger karena kebanyakan nonton utaran, saya kasih tahu. Baru-baru ini, salah satu gubernur pernah membuat statement bahwa pihak sekolah tidak boleh mewajibkan siswinya yang muslim untuk berhijab saat bulan puasa. Gimana menurut sampean? Kurang ndlogok apa coba?? Siapa kah gubernur tersebut? Ahh, saya ga mau sebut nama. Soalnya gubernur tersebut temannya banyak, loyalist juga banyak.


Saya curiga, jangan-jangan daerah yang dipimpin oleh gubernur yang bersangkutan memang sedang dalam proyek pengadaain cabe-cabean guna memenuhi kebutuhan cabe-cabean nasional yang tidak mampu dipenuhi oleh daerah lainya. Cuma curiga si.


Menurut saya, seharusnya pemerintah dalam hal ini gubernur, tidaklah harus mencampuri urusan yang berkaitan dengan akidah. Apalagi jika akidah sang gubernur sudah berbeda dengan akidah masyarakat yang ingin diaturnya. Saya takut, hal yang diatur tersebut (dalam hal ini pelarangan penggunaan hijab) justru akan menjadi antiklimaks dan memecah persatuan umat secara global. Mbok yo ga usah membuat sebuah tindakan yang berpotensi memancing kerusuhan dan kegelisahan umat lho. Sampean itu kan gubernur, dari pada mikirin jilbab, mending mikirin kasus besar macam proyek reklamasi misalkan, revitalisasi daerah tepian sungai yang jauh dari kata manusiawi misalkan. Toh, masih banyak hal-hal yang perlu dan sangat penting buat sampean pikirin.



Sebagai negri van ndlogok, negri ini punya banyak kisah yang rumit dan permasalahan yang juga sama rumitnya. Sebagai agen perubahan katanya, maka saya, dan kamu-kamu semuanya, harus bersikap, bertindak, bersuara. Yah, minimal punya sikaplah. Jangan Cuma bersikap pas lihat mba-mba spg lewat saja.
No comments

No comments :

Post a Comment