Kenyang Itu Susah
uhhhh,... laper... semenjak usai liburan, saya jadi mudah sekali lapar, ini adalah salah satu bukti bahwa saya belum benar benar move on dari masakan mamah. Cieeelllahh,. mamah, biasa panggil mboke juga. Woooleess,.. sooobb. Laper itu bisa jadi hal yang menyenangkan jika dirumah, Yailah, wong kalo makan tinggal ambil, ga menyenangkan gimana?. Tapi, lapar bisa jadi hal yang penuh perjuangan jika ditanah rantau macam ini. heemm.. Belanda memang masih jauh, tapi rasa lapar sudah terlanjur dekat.
Semenjak jadi perantauan, kadang saya harus pintar melawan rasa lapar sepintar saya melawan rasa rindu. hahaha.. rindu ma siapa ?? ma lubang pintu ?? kaammmfreett.
Semakin sering saya lapar, maka semakin sering pula tuanku imam bonjol dan kawan kawannya keluar dari sarangnya. Mereka seakan akan kembali mengangkat senjata, untuk memperjuangkan rasa lapar saya, dengan disertai slogan "kenyang, atau mati ?".
| memperjuangkan rasa lapar |
Tapi, satu hal yang amat sangat penting sekarang. Setelah dewasa, saya akhirnya sepakat bahwa jadi dewasa tidaklah menyenangkan. Terlalu banyak tuntutan, terlalu banyak beban, dan terlalu banyak hal yang harus kita cari sendiri. Ya, makan misalnya. Saat kecil, makan tak perlu berpeluh keringat terlebih dahulu. Sekarang, untuk makan saja kadang saya mikir.
Dan, jadi dewasa akhirnya menyadarkan saya akan terlalu banyak pertanyaan yang kita sendiri tidak tahu jawabannya. semisal :
"kenapa kamu sayang sama aku ?",
pertanyaan seorang gadis yang jamak terlontar saat kita menyatakan apa yang sedang kita rasakan. Apakah mungkin harus kita jawab dengan begini, "karena kamu mirip mamah ku, pinter masak" . hahaha.
atau pertanyaan dosen saat kita mengajukan judul skripis,
"mengapa kamu ambil judul ini ?" || "Sebenarnya saya mau ambil hati anak bapak, tapi takut bapak minta revisi". hahaha. kaammfreeett.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
No comments :
Post a Comment