Kopi Malam Hari


Seperti senja di ujung pantai selatan, aku menatapmu dari kejauhan, menikmati setiap jingga mu, dan memaknai proses tenggelam mu. Seperti senja di balik gunung, aku masih menatap mu dari balik pepohonan. Membiarkanmu berlalu, sembari berharap esok kamu datang dengan sama indahnya, seperti biasanya.


Malam ini, aku baca hatimu sedang gundah, kenapa? Duduklah disampingku untuk bercerita. Jika tak sempat, kirim saja pesan ke hp ku, aku akan membalasnya segera. Namun jika berkenan, kita bisa bercerita sembari menikmati kopi malam ini, pahit? Pasti !, bukankah senyum mu yang manis, apa kamu lupa itu?. Duduklah disampingku untuk bercerita, meski itu Cuma sekedar imaginer yang aku bayangkan.



Malam ini, jika kamu lupa caranya bahagia, maka kopiku akan mengingatkanya. Jika kamu lupa cara tersenyum ? maka aku akan mengingatkannya, tapi, bisa-bisanya mahluk semempesona kamu lupa cara bahagia?. Berkacalah, bukankah senyum itu yang selalu mempesonaku. Atau, kamu bisa menatap mataku, kapanpun kamu mau. Disitu, jelas digambarkan betapa kamu selalu mempesona, dan menarik seperti biasanya. Dengan senyum indah seperti sewajarnya.


Senja mengajarkanku, untuk melihat mu dari kejauhan, menikmati indah mu dari balik pepohonan. Melihat mu dari balik semak belukar. Senja pula yang mengajarkan ku, bahwa mempesona tak harus muluk-muluk. Kamu mempesona apa adanya, menawan seperti biasanya.


Kopi mengajarkanku, bahwa cukup senyum mu yang manis, yang lain? Jangan!. Aku dari kejauhan mendengar kisah mu, aku dari kejauhan memperhatikan mu, dengan secangkir kopi dimeja, dengan ampas yang telah tenggelam, dan dengan perasaan yang makin dalam. Nikmati saja kebersamaan mu dengannya, bahagialah sepuas mu, aku bisa kapan-kapan. Namun, jika kamu butuh tempat bercerita, maka kamu tahu, dua telinga dan waktu ku siap buat kamu butuhkan kapanpun. Tak perlu sungkan. Aku cukup bahagia bisa menenangkan mu, dan senyum mu, akan selalu bisa menenangkan ku pula.




  
1 comment

1 comment :