Animasi solusi pembelajaran budaya

Oleh : Ragil Wijianto

Bagi kita yang pernah mengalami masa anak-anak tahun 90-an, maka kita akan sangat mengenal beberapa judul film animasi kartun berikut ini, semisal doraemon, bakugan, dragon ball, P men, Sailor moon, saint saiya, pokemon dan lain sebagainya. Bahkan beberapa diantara kita rela bangun sangat pagi dihari minggu demi tidak ketinggalan satu episode ceritapun dari film-film animasi diatas. Termasuk saya. Saya termasuk anak-anak era 90an yang dengan sangat riang gembira menyambut hari minggu. 

Akan tetapi, jaman kini berubah. Anak-anak jaman sekarang tidak lagi bisa mendapatkan haknya untuk mendapatkan tanyangan yang menghibur dihari minggu. Padahal hak anak anak untuk bermain dan mendapatkan hiburan jelas diatur dalam undang-undang. Kini, stasiun TV negri ini tidak lagi mementingkan hak anak anak untuk tetap mendapatkan hiburan, tayangan stasiun TV sekarang hanya berorientasikan bisnis dan keuntungan. Hanya sedikit stasiun TV yang tetap memberikan slot bagi tayangan anak-anak di negri ini. Imbasnya jelas bahwa anak-anak kehilangan masa anak-anaknya. 
Hilangnya tayangan tayangan animasi kartun dihari minggu bukan hanya menghilangkan hak anak-anak untuk mendapatkan hiburan, akan tetapi juga menghambat perkembangan dari dunia animasi di Indonesia. Bahkan mirisnya, beberapa hasil karya anak bangsa harus rela diekspor ke negri tetangga dan bodohnya kita kembali mengimport produk animasi tersebut dan kini bahkan jadi tayangan animasi yang cukup populer dan digemari. Sungguh tidak ada negri yang sekonyol ini. Padahal menurut saya, animasi film kartun bisa menjadi satu solusi yang solutif guna mengajarkan dan mempertahankan budaya bangsa. Saya selalu yakin, bahwa hal yg dilihat akan jauh lebih mudah diterima dan diingat ketimbang hal yang dibaca. Animasi film kartun juga bisa mengajarkan kepada anak-anak generasi kita untuk lebih mengenal kesenian semisal tari, wayang, atau budaya budaya bangsa kita yang lain. 

Untungnya, ada beberapa stasiun TV yang rela memproduksi tayangan animasi kartunnya sendiri dan disisipi dengan nilai nilai kebudayaan bangsa. Semisal, MD Animation dengan “Adit dan Sopo Jarwo”, Indosiar dengan “Keluarga somat”. Kedepan saya harap, akan banyak tumbuh animasi karya anak bangsa yang bisa diproduksi sambil juga disisipi nilai nilai kebudayaan bangsa, agar selain anak-anak kita tetap mendapatkan haknya untuk mendapat tayangan hiburan dan juga terjaganya budaya budaya bangsa dari kepunahan dan klaim negara tetangga.

Saya masih ingat satu moment anak-anak yang sangat menggembirakan, dimana saya dan teman teman bermain dan memerankan salah satu adegan film dragon ball, kita berebut siapa yang lebih pantas jadi son goku, siapa yang patut jadi picolo, dengan kepolosan dan kekhasan anak-anak. Atau saat kita juga bertengkar untuk menentukan siapa rangers merah siapa rangers kuning?. Akan tetapi, anak-anak sekarang justru lebih faseh menirukan lagu “oplosan”, “cinta satu malam” mereka lebih paham siapa siapa saja itu “ganteng-ganteng srigala” atau bagaimana “goyang cesar”, miris. 

No comments

No comments :

Post a Comment