BBM kita Seperti Mahasiswa Tingkat Akhir

Pertama, jangan pernah berfikir bahwa saya menuliskan ini karena saya pendukung prabowo. Soob, pilpres sudah berlalu, dan sekarang saya sama seperti kalian semua. Bagian dari rakyat indonesia yang hak dan kewajibannya di lindungi oleh undang-undang. Tapi, ok, saya akui saya pendukung prabowo. Bahkan lebih jauh, saya adalah orang orde baru. Fix kan?. Mau mengubah pandangan tentang saya? silahkan!.

Saya melaksanakan kewajiban saya akan negri ini, salah satunya mengakui Joko widodo sebagai presiden republik indonesia yang berdaulat. Akan tetapi, apakah mengakuinya sebagai presiden juga harus menghilangkan sikap kritis saya akan pemerintahan yang sekarang sedang berjalan?. Saya rasa tidak. Ini juga harusnya berlaku bagi semua rakyat indonesia.
Kebijakan pemerintah takan menyentuh golongan yang seperti ini

Salah satu kebijakan yang cukup membuat saya mengerutkan dahi adalah perubahan harga BBM. Akhir tahun beliau menaikan harga BBM, Awal tahun, harga BBM kembali turun dengan alasan harga BBM dunia sudah semakin anjlok. Padahal sebelum awal tahun ini, Harga BBM dunia bukankah juga terus turun?. Lantas, di bulan februari harga BBM kembali turun dengan 3 harga yg berlaku di 3 wilayah yang berbeda. 

Masalahnya adalah, meski harga BBM turun, harga bahan pokok yang sudah terlanjur naikan takan lantas ikut turun. Apalagi penjelasan pemerintah jika, pemerintah akan merevisi harga BBM per 2 minggu sekali. Maka, dengan kondisi yang seperti ini jangan pernah berharap harga kebutuhan pokok akan turun. 

Revisi 2 minggu sekali mengingatkan saya akan masa masa pembuatan skripsi atau tugas akhir. Bertemu dengan dosen pembimbing, menyerahkan konsep skripsi, tidak di acc, kertas dicorat caret lalu revisi.

Lantas, sekarang siapa yang berperan sebagai dosen pembimbin ? mahasiswa? jika harga BBM di revisi 2 minggu sekali?


No comments

No comments :

Post a Comment